Sulitnya anak-anak nelayan Kenjeran mendapatkan akses pendidikan dasar mendorong Nadia (20) menggagas Program
Surabaya Goes to School (SGTS). Program ini ternyata berhasil membantu anak-anak putus sekolah melanjutkan
pendidikannya sehingga SGTS kini pun siap direplikasi di daerah-daerah lain.
Diah Rahmawati Utami
Pendidikan memiliki peran sentral bagi suatu bangsa karena dapat menjadi jalan meningkatkan kualitas hidup warganya. Sayangnya, meski memiliki arti penting, kenyataannya tak sedikit anak
di negeri ini yang belum bisa menikmatinya.
Kian mahalnya biaya pendidikan memaksa orang tua merogoh kocek lebih dalam, sementara mereka yang keadaan ekonomi pas-pasan umumnya lebih memilih anak-anak mereka tak melanjutkan pendidikan.
Kondisi itu pula yang dialami anak-anak nelayan di Kecamatan Kenjeran, Surabaya. Bagi anak-anak
yang penghasilan orang tuanya tak tentu, pendidikan ibarat barang mewah yang sulit dinikmati. Saat biaya sekolah benar-benar tak lagi terjangkau, tak sedikit yang terpaksa memilih berhenti bersekolah.
Gandeng Dinas Pendidikan
Beruntung, pada 2009 lalu, Nadia bersama timnya, Surabaya Goes to School (SGTS), membantu mereka agar bisa kembali ke bangku sekolah. “SGTS berupaya agar anak-anak putus sekolah bisa mendapatkan pendidikan formal lagi karena di Indonesia ijazah masih dianggap penting,” papar Nadia yang membidani lahirnya SGTS ini.
Pada awal kiprahnya, agar cita-cita SGTS tersebut segera terealisasi, Nadia bersama timnya berupaya membangun hubungan baik dengan pihak-pihak yang dianggap memiliki kewenangan terkait
pendidikan formal, antara lain Dinas Pendidikan dan pejabat kecamatan setempat, serta pihak
sekolah dan para orang tua siswa.
“Dengan Dinas Pendidikan kami berupaya agar Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang digembargemborkan pemerintah bisa sinkron dengan kebutuhan anak-anak putus sekolah yang sedang kami bantu,” jelas Nadia.
Tak sia-sia, pada tahun ajaran 2009-2010 lalu, Nadia dan timnya berhasil membantu 30 anak nelayan kembali melanjutkan pendidikan mereka yang sempat terputus. Jumlah tersebut makin bertambah pada 2010-2011. Tak kurang dari 59 anak berusia 6-12 tahun pun berhasil dibantu melalui program
ini.
“Yang bisa kami bantu memang belum banyak, tapi kami bertekad setiap tahun jumlah tersebut terus
bertambah, supaya lebih banyak adik-adik yang bisa kembali bersekolah,” imbuh peraih Young
Changemaker (YCM) 2010 Ashoka Indonesia ini.
Selain melakukan advokasi, mahasiswi tahun kedua Teknik Kimia Institut Sepuluh November (ITS) Surabaya ini juga menggagas penggalangan dana bagi anak-anak tersebut. Program Car wash for charity, Baksos Himpunan Mahasiswa, Forum dan Baksos SMA se-Surabaya, serta wisata kuliner
AKRAB dan Bazar PIMITS ITS adalah beberapa contoh idenya.
Kakak Asuh
“Kami juga bekerja sama dengan HIMA Teknik Kimia, Teknik Material, Teknik Kelautan, dan Sistem Informatika. Dari kerja sama itu kami bisa melahirkan Program Kakak Asuh.Alh amdulillah, sampai sekarang sudah ada 50 kakak asuh yang bergabung,” ujar Nadia.
Nadia menggunakan semua dana yang terkumpul dari kegiatan pengumpulan dana dan Program Kakak Asuh itu untuk membantu anak-anak yang mereka dampingi, di antaranya untuk membelikan baju seragam, buku-buku pelajaran, dan alat tulis.
“Pendampingan yang kami lakukan lebih seperti tutorial, sesuai kebutuhan dan tingkatan pendidikan mereka. Kami berharap adik-adik yang kami dampingi akhirnya benar-benar siap melanjutkan
pendidikan sekaligus bisa mengejar ketertinggalan mereka,” paparnya.
Ke depan, lanjut Nadia, SGTS berencana menggandeng BEM ITS melalui Program Sekolah Peradaban yang sasaran utamanya adalah siswa SMP-SMA se-Surabaya. Nadia mengharapkan melalui program tersebut para siswa akan memiliki keterampilan lebih baik yang dapat mereka
manfaatkan selepas tamat SMA.
“Intinya, kami ingin mengenalkan konsep social development kepada mereka. Sebagai langkah awal, untuk mengasah keterampilan yang sudah mereka dapat, SGTS akan membantu mencarikan mereka
tempat magang. Siapa tahu dengan cara itu mereka akan memiliki gagasan-gagasan baru, termasuk untuk memperbaiki lingkungan sekitar mereka,” papar Nadia.
Jalan Panjang
Roma tidak dibangun dalam semalam. Mungkin ungkapan itu tepat untuk menggambarkan perjuangan
Nadia mengembangkan program yang digagasnya. Laiknya membangun sebuah bisnis, apa yang digagas gadis kelahiran Jakarta ini juga tidak serta-merta berhasil seperti sekarang. Sebaliknya, di awal usahanya menolong anak-anak itu kembali bersekolah, ia mesti memutar otak agar kegiatan
yang dilakukannya mendapat respons positif para orang tua anak-anak tersebut.
Butuh waktu pendekatan setahun sebelum akhirnya masyarakat menerima SGTS, dan seorang warga akhirnya merelakan ruang tamunya sebagai tempat pendampingan. Berkat hubungan baik dengan pihak kecamatan, SGTS pun lantas difasilitasi menggunakan Balai RW sebagai tempat pendampingan, dan kini bahkan juga bisa menggunakan dua gedung sekolah di kawasan
Kenjeran.
Siap Replikasi
Nadia berharap SGTS tak hanya berhasil di Kenjeran, tetapi juga bisa dijalankan di wilayah lain di Surabaya. Oleh karenanya, proses regenerasi pun terus dilakukannya. Harapannya, tongkat estafet
program ini tak terputus di tengah jalan.
Supaya program makin dikenal luas, Nadia juga berencana mencanangkan Duta SMA SGTS. Harapannya, para pelajar akan tergerak memiliki kepedulian terhadap isu-isuserupa sehingga akan lebih banyak gerakan-gerakan sosial yang membawa perubahan bagi masyarakat. Apalagi, masih
menurut Nadia, kegiatan yang digagasnya tersebut kini sudah mendapat dukungan penuh dari
Menteri Pendidikan M Nuh.“Waktu Pak Nuh berkunjung ke Surabaya, kami mengundang beliau menilik langsung yang kami lakukan. Hasilnya luar biasa, Pak Nuh memberikan respons positif,” tutur Nadia.
“Kami berharap bisa bikin ‘Jakarta Goes to School’, atau kalau ada teman-teman dari daerah lain mau
mengadaptasi program ini untuk diaplikasikan di daerahnya, boleh banget! Siapa tahu dengan makin banyak yang mereplikasi, program ini akan bertransformasi menjadi Indonesia Goes to School,” tambah Nadia.
Apakah kalian kaum muda tertarik mengadopsi SGTS ala Nadia dan teman-temannya?
Atau kalian mempunyai ide membuat perubahan sosial di lingkungan kalian? Kalau ya, yuk
gabung dengan YCM Ashoka Indonesia.
Penulis adalah Program Officer Young Changemakers (YCM) dan Media Officer Ashoka Indonesia.